Makalah maful maah

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Nahwu salah satu mata kuliah yang mempelajari kaidah – kaidah Bahasa Arab terutama dalam bab Maf’ul ada makna yang tersembunyi dalam bab ini. Sehingga apabila salah memahami berakibat pula salah pula dalam ma’nanya. Maka perlunya ketelatenan dalam memahami bab ini.
2. Tujuan pembuatan makalah

- Memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Arab
- Agar lebih memahami tata bahasa Indonesa dengan baik dan benar
- Agar tidak salah pemahaman dalam menulis dan berbicara bahasa Arab

BAB II
ISI
MAF’UL MA’AH ( اَلْمَفْعُولُ مَعَهُ )

A. DEFINISI MAF’UL MA’AH

اَلْمَفْعُولُ مَعَهُ هُوَ اسْمٌ مَنْصُبٌ وَقَعَ بَعْدَ وَاوٍ بِمَعْنَى مَعَ لِيَدُلَّ عَلَى شَيْئِ حَصَلَ الفِعْلُ بِمُصَاحَبِتِهِ (أيْ مَعَهُ)
Yaitu isim yang dibaca nashab yang jatuh sesudah waw (واو ) yang berarti; menyertai, untuk menunjukkan sesuatu hasil perbuatan dengan menyertainya,
Atau redaksi lain :
اَلْمَفْعُولُ مَعَهُ هُوَ الاِسْمٌ المَنْصُبُ اَلْمَذْكُرُ بَعْدَ الْواوِ المَعِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَقْرِنٍ فِى الحُكْمِ
Yaitu isim yang dibaca nasab yang disebutkan setelah wawu ma’iyyah tanpa bersamaan dengan hukumnya
Contoh :
سَارَ تُونُو وَالجَبَلَ = Tono berjalan menyertai gunung
Jadi maf’ulma’ahu adalah isim yang mempunyai kedudukan jabatannya sesudah waw (واو ) yang berarti; menyertai atau serta, maka di sini kalau diartikan secara harfiyah, kalimat tersebut di atas menjadi : Tono berjalan dan gunung, tetapi berjalan dan gunung di sini maksudnya ialah Tono berjalan di lereng gunung, bukan berarti Tono berjalan bersama dengan gunung, dengan kata lain ia senantiasa berjalan seolah –olah di sebelah gunung.

Penjelasannya :
Isim yang dijadikan maf’uul ma’ah harus dijadikan berharokat nashab contoh :
سَارَ تُونُو وَالجَبَلَ Tono berjalan menyertai gunung
Lafazh وَالجَبَلَ harus berharokat nashab fathah
B. SYARAT – SYARAT KALIMAH YANG DILETAKAN SEBELUM MAF’UUL MA’AH YAITU ADA TIGA :
1. Isim yang terletak setelah واو wawu yang bermakna مَعَ
2. Isim terletak setelah fi’il
3. ‘amil maf’uul ma’ah harus didahulukan

B. SYARAT SYARAT MAF’UL MA’AH

1. Berbentuk isim Fadhlah

maksudnya adanya isim tersebut termasuk kelebihan artinya tanpa adanya isim terebut sebenarnya jumlah tersebut sudah bisa dipahami, contoh :
دَعِ الظَّالِمَ وَالأَيَّامَ “ ajak lah orang – orang dholim bersamaan hari – hari”

2. Sebelum Wawu Ma’iyyah ada Jumlah contoh
جَاءَ الاَمِيرُ وَالجَيْسَ “ raja datang bersamaan dengan prajurit”

3. Wawu tersebut bermakna “ Ma’ah “
سَارَ تُونُو وَالجَبَلَ Tono berjalan menyertai gunung

C. HUKUM-HUKUM KALIMAT ISIM YANG JATUH SETELAH WAWU

Dalam hal ini ada empat macam hukum kalimat yang jatuh setelah wawu

1) Wajib dibaca Nashob (Wawu Ma’iyyah)

Dalam hal ini jika sudah memenuhi tiga syarat di atas.
Contoh :
سَافَرَ خَلِيْلٌ وَاللَّيْلَ “ kholil bepergian bersamaan dengan malam”

Kata “الليلَ “ wajib dibaca nashob karena jatuh setelah wawu ma’iyyah, dan jika diatofkan
malah akan merusak makna kalam.

2) Wajib athof (wawu Athof)

Dalam hal ini jika tidak memenuhi tga syarat di atas, contoh :
وسعيدٌٌ جَاءَ خَالِدٌ “ kholid datang bersamaan dengan said”

D. ‘AMIL PADA MAF’UL MA’AH

Seperti yang kita tahu pada definisi maf’ul ma’ah di atas kita ketahui bahwa yang membuat
maf’ul ma’ah dibaca nashob adalah fi’ilnya atau isim yang menyerupai fi’il (syibhu fi’il)
contoh :
جَاءَ الاَمِيرُ وَالجَيْسَ “ raja datang bersamaan dengan prajurit”

Akan tetapi terkadang amil maf’ul ma’ah juga dikira-kirakan. Hal itu jika jatuh setelah “ما وكيفَ “ istifhamiyyah. Contoh :
ما أنتَ وخالداً وما لك وسعيداً

Hal tersebut tetap menggunakan amil fi’il akan tetapi dikira-kirakan, jika ditampakkan berbunyi :

ما تَكُونُ وخالداً؟ وما حَاصَلَ لكَ

Catatan :

Bahasan yang menjadi catatan penting adalah pada bab maf’ul ma’ah ini, maf’ul ma’ah tidak
boleh didahulukan dari amilnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Maf’ul Ma’ah yaitu isim yang dibaca nasab yang disebutkan setelah wawu ma’iyyah tanpa bersamaan dengan hukumnya.
Syarat – syarat kalimah yang diletakan sebelum maf’uul ma’ah yaitu ada tiga :
1. Isim yang terletak setelah واو wawu yang bermakna مَعَ
2. Isim terletak setelah fi’il
‘amil maf’uul ma’ah harus didahulukan

B. Saran
- Kita dituntut untuk memahaminya lebih detail sehingga tidak ada misundrestanding
- Agar pembaca lebih berhati – hati dalam melakukan percakapan maupun penulisan bahasa arab.

MAKALAH
MAF’UL MA’AH ( اَلْمَفْعُولُ مَعَهُ )
Diperuntukan Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Bahasa Arab

Disusun oleh :
Nama : Suryana Setiawan
Jrs/Fkt : PAI/TARBIYAH
Smt/Tkt : II/I

STAI RIYADDUL JANNAH
JALANCAGAK – SUBANG
2012
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan pada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya, Sehingga penulis telah menyelesaikan makalah salah satu tugas mata kuliah Bahasa Arab.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian makalah ini.
Atas segala bantuan dari segala pihak semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda. Kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini Semoga makalah ini bermanfa’at khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

Jalancagak, 22 Mei 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………. 1
A. Latar Belakang
B. Tujuan
BAB II ISI …………………………………………. .………………………………………….. 2
A. DEFINISI MAF’UL MA’AH ………….…………………………………………………2
B. SYARAT – SYARAT KALIMAH YANG DILETAKAN SEBELUM MAF’UUL MA’AH …………………………………………………………………………..……… 3
C. HUKUM-HUKUM KALIMAT ISIM YANG JATUH SETELAH WAWU……………..4
D. ‘AMIL PADA MAF’UL MA’AH…………………………………………………………5
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………… 6
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

- K.H. Moch. Anwar,” Ilmu nahwu Terjemah” Bandung, Sinar Baru ALGESINDO,2006,
- Muhammad Abdullah Bin Hasan’ Tashilul masalik fi tarjamah alfiah ibnu malik” SUKABUMI
- Yahya,aly”Methode Mudah Untuk Mempelajari Bahasa Arab dan Nahwu” Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga,1402 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s